Sakit Alergi pada Balita Trik Penanganan & Pencegahan

Deteksi dan pencegahan alergi sejak bayi penting karena dapat mencegah atau menghilangkan alergi jangka panjang (allergy March). Alergi jangka panjang adalah gejala alergi setiap usia dan setiap orang akan berbeda. Pada kelmpok tertentu, usia di bawah 5 tahun akan mengalami sensitif saluran cerna dan kulit. Usia 5-12 tahun asma dan sering pilek. Pada usia di atas 15 tahun lebih sensitif hidung atau sinusitis.

Melihat kondisi yang demikian luas dan banyaknya pengaruh alergi yang mungkin bisa terjadi, maka deteksi dan pencegahan alergi sejak dini sebaiknya dilakukan. Gejala serta faktor resiko alergi dapat dideteksi sejak lahir, bahkan mungkin sejak dalam kandungan.

ALERGI PADA BALITA

Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek dan nenek pada penderita. Bila ada orang tua menderita alergi kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak sejak dini. Bila ada salah satu orang tua yang menderita gejala alergi maka dapat menurunkan resiko pada anak sekitar 20 – 40%, ke dua orang tua alergi resiko meningkat menjadi 40 – 80%. Sedangtkan bila tidak ada riwayat alergi pada kedua orang tua maka resikonya adalah 5 – 15%.

Beberapa analisis medis yang sering dikaitkan dengan alergi pada balita adalah:

  1. GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah atau gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden atau mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Feses cair, hijau, bau tajam, kadang seperti biji cabe. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
  2. Kulit sensitif. Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  3. Kuning Timbul kuning tinggi atau kuning bayi baru lahir berkepanjangan seharusnya setelah 2 minggu menghilang sering disebut Breastfeeding Jaundice (kuning karena ASI mengandung hormon pregnandiol).
  4. Mulut hipersensitif. Lidah sering timbul putih kadang sulit dibedakan dengan jamur (candidiasis) atau memang kadang juga disertai infeksi jamur. Bibir tampak kering atau kadang pada beberapa bayi bibir bagian tengah berwarna lebih gelap atau biru. Produksi air liur meningkat, sehingga sering “ngeces (“drooling”).
  5. Hidung Sensitif. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak.
  6. Mata Sensitif. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi atau kedua sisi. Keloak mata bengkak biasanya salah satu sisi lebih besar, ukuran mata berkesan tidak simetris.

Itulah beberapa alergi yang biasanya terjadi pada balita. Para ibu diwajibkan untuk mewaspadai tanda-tanda tersebut demi untuk kesehatan buah hatinya.

Demikianlah artikel pembahasan mengenai alergi pada anak balita. Semoga artikel ini membantu Anda dalam merawat dan menjaga kesehatan balita Anda.